KontraS: Polisi Represif, Polisi: Demonstran Mengganggu dan Merusak

KontraS mengkritik tindakan sejumlah aparat polisi dalam penanganan demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja. Polisi dinilai terlalu represif dalam menghadapi demonstran. Sebaliknya, polisi menilai aksi demonstrasi sudah mengganggu ketertiban umum dan merusak.

Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Fatia Maulidiyanti mengatakan tindakan represif aparat kepolisian terlihat pada saat melakukan penangkapan secara sewenang-wenang terhadap demonstran di beberapa daerah mulai dari 6 hingga 8 Oktober ini.

Fatia menyebut Kota Palu, Makassar, Yogyakarta, Surabaya, dan Lampung, juga mendapat tindakan kekerasan dari aparat kepolisian. Di mana polisi mengeluarkan gas air mata dan memukul menggunakan rotan. Hal itu disampaikan Fatia dalam konferensi pers virtual Kamis 8 Oktober malam.

Tindakan represif aparat kepolisian bahkan terlihat di Jakarta Kamis siang 8 Oktober. Fatia menjelaskan pada saat demonstran sedang diam tidak melakukan apa-apa lantaran sedang menunggu rombongan massa lain di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, tiba-tiba polisi justru menembakan gas air mata ke arah mereka.

Kadivhumas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan “800 orang diamankan, dan mereka bukan buruh, bukan mahasiswa. Ketika dilakukan rapid test, 34 orang reaktif. Mereka disinyalir mau bertindak anarkis, kebanyakan unemployed (pengangguran.red) datang dari Tangerang, Bogor dan luar Jakarta”.

Lebih jauh ia menambahkan bahwa dalam demonstrasi di ibu kota Jakarta, sedikitnya enam polisi menderita luka-luka. “Kami masih investigasi siapa yang ada di belakang semua ini”, tegas Yusri Yunus dalam wawancara denga VOA. Namun ia tidak merinci lebih jauh tentang hal ini. (VOA/aa/em)

BERITA LAINNYA

.