Longsor di Sumedang, Seharusnya Ada Peringatan Curah Hujan Tinggi

Memburuknya cuaca di awal tahun 2021 ditandai oleh curah hujan yang tinggi di berbagai daerah di Indonesia sejak November 2020 lalu. Menurut BMKG, bahwa Indonesia, khususnya Pulau Jawa, memasuki puncak musim penghujan antara bulan Januari-Februari 2021. Anggota Komisi VIII DPR RI Jefry Romdonny pun menyoroti bencana longsor akibat hujan deras seperti yang terjadi di Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (9/1/2021).

Menurut laporan yang diterimanya, belasan warga menjadi korban, kemudian 8 rumah warga tertimbun longsor dan diduga 4 rumah tertimbun beserta penghuninya. Longsornya tanah di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, dipicu karena curah hujan yang tinggi disertai tanah yang tidak stabil.

“Semoga korban segera ditemukan oleh para relawan yang bertugas. Karena itu perlu kerja sama antara petugas dengan masyarakat untuk mempercepat evakuasi. Kepada keluarga korban yang meninggal semoga diberikan ketabahan oleh Allah,” harap Anggota DPR RI daerah pemilihan Jawa Barat IX meliputi Subang, Majalengka, dan Sumedang itu, melalui pesan singkat yang diterima Parlementaria, Minggu (10/1/2020) sore.

Sesaat setelah mendapatkan informasi kejadian, Jefry mengatakan bahwa pihaknya segera menghubungi Kepala BNPB Doni Monardo untuk mengirimkan bantuan tanggap darurat di Sumedang. “Bantuan logistik sebagian sudah terkirim dan sebagian lagi masih dalam proses. Sementara dana operasional untuk tanggap darurat juga sudah diberikan kepada Bupati Sumedang,” jelasnya.

Untuk itu, Jefry mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap dampak turunan dari curah hujan tinggi yaitu seperti bencana banjir dan longsor. Masyarakat dapat melakukan beberapa hal misalnya, melakukan normalisasi saluran air, sehingga debit air yang tinggi tidak terhambat oleh sampah atau lumpur yang menghambat aliran hingga dapat menyebabkan banjir dan longsor. Selain itu, masyarakat yang sudah berkeluarga diimbau agar menyimpan dokumen-dokumen penting ke tempat yang aman apabila terjadi banjir.

“Bagi pemerintah, ini seperti musibah tahunan, yang setiap tahun terjadi. Harusnya pemerintah tidak perlu gagap mengatasi musibah ini. Pemerintah harus gencar melakukan early warning kepada masyarakat akan potensi bencana di daerah-daerah rawan. BNPB melalui BPBD ditingkat daerah dan elemen masyarakat lain harus bersatu padu untuk selalu mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga lingkungan,” tegas Jefry.

Hingga berita ini diturunkan, politisi Partai Gerindra tersebut masih memonitor kondisi bencana melalui relawan yang berada di sana. Berdasarkan informasi yang dihimpun, musibah longsor tersebut merenggut 11 korban jiwa yang ditemukan meninggal dunia dan sebanyak 8 orang masih belum berhasil ditemukan. (DPR/alw/sf)