Pembangunan Pangan dan Gizi Untuk Wujudkan SDM Unggul

Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, berkualitas, dan berdaya saing merupakan agenda prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam lima tahun mendatang. Untuk mewujudkan SDM unggul, salah satu aspek yang harus dibangun adalah aspek pangan dan gizi, yang mana sangat berpengaruh pada produktivitas dan kualitas SDM. Namun, pembangunan pangan dan gizi masih menghadapi tantangan besar.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Moderasi Beragama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Sartono mengungkapkan, tantangan yang dihadapi Indonesia di bidang pangan dan gizi saat ini yakni ketidakcukupan konsumsi pangan, pola konsumsi masyarakat Indonesia yang masih kurang ideal, dan yang paling serius adalah masalah kurang gizi atau stunting pada anak balita.

Hal itu dikatakan Agus Sartono saat menyampaikan pidato kunci mewakili Menko PMK Muhadjir Effendy dalam Webinar Pembangunan Pangan Dan Gizi Dalam Kebijakan Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan, yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pangan dan Gizi-Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPG-AIPI), pada Sabtu 5 Desember.

“Permasalahan gizi yang masih serius untuk dihadapi adalah stunting. Berdasarkan data Riskesdas, pada tahun 2019, angka stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Pemerintah menargetkan penurunan stunting menjadi 14 persen di tahun 2024 sebagaimana yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024,”

Untuk mencapai target penurunan stunting hingga 14 persen, dikatakan Deputi Agus, perlu langkah yang luar biasa atau extraordinary. Di antaranya yaitu melalui intervensi sejak usia remaja, di masa pranikah, selama kehamilan, dan masa interval kehamilan. Selain itu, pembangunan pangan dan gizi juga dilaksanakan melalui berbagai upaya untuk percepatan perbaikan gizi.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, pemerintah juga telah melaksanakan program-program pembangunan pangan dan gizi yang dilaksanakan secara terkoordinasi melalui Kementerian dan Lembaga yang membidangi masalah pangan dan gizi, seperti Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Sosial (Kemensos), dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Kementan mendukung penguatan ketahanan pangan masyarakat melalui program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga, KKP memiliki program Gemarikan yang bertujuan untuk meningkatkan budaya konsumsi ikan di masyarakat. Program sembako/BPNT yang dilakukan oleh Kemensos pada tahun 2020 untuk pemenuhan pangan yang bergizi, dan Kemenkes memiliki program kampanye Isi Piringku sebagai media promosi konsumsi pangan sesuai dengan anjuran Gizi Seimbang,” jelas dia.

Deputi Agus Sartono meminta kepada para ilmuwan gizi dan pangan untuk fokus mengembangkan potensi pangan melalui penelitian dan pengembangan, serta melakukan edukasi kepada masyarakat pentingnya pangan yang berkecukupan gizi. Hal itu sangat perlu dilakukan untuk mewujudkan SDM Unggul yang berdaya saing.

“Para ilmuwan dan akademisi diharapkan dapat mengembangkan potensi pangan di setiap daerah yang bernilai gizi tinggi untuk meningkatkan gizi masyarakat, serta mendukung dalam memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya konsumsi pangan yang bergizi dan beranekaragam terutama pada masa pandemi agar tetap sehat dan bugar,” tandasnya. (Kemenko PMK/Novrizaldi)