Penembakan di Intan Jaya, OPM Mengaku Bertanggung Jawab

Proses evakuasi salah satu korban penembakan di Kabupaten Intan Jaya, Papua, pada 26 Oktober 2019.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) atau biasa disebut kelompok separatis bersenjata (KSB) mengaku bertanggung jawab terhadap penembakan anggota TNI dan Tim Gabungan Pencari Fakta di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Satu anggota TNI dan seorang dosen terkena tembakan dalam insiden itu.

Juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom membenarkan serangan dilakukan kelompoknya terhadap rombongan TGPF. TGPF (Tim Gabungan Pencari Fakta) tersebut dibentuk pemerintah Indonesia untuk mengusut kematian seorang pendeta di Intan Jaya, Papua. Kepada VOA, Sebby mengatakan serangan itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap TGPF.

“Ya TPNPB bertanggung jawab. Itu keputusan kami, dan dengan tuntutan bahwa TPNPB menolak tim investigasi bentukan Menkopolhukam. Kami minta tim independen yang harus investigasi yaitu PBB, Komnas HAM, dan gereja,” katanya, Jumat 9 Oktober sore.

Sebby Sambom melanjutkan bahwa serangan itu dilakukan oleh pasukan TPNPB-OPM di Kodap VIII Intan Jaya, di bawah komando Sabinus Waker.

Sementara itu, Kepala Penerangan Kogabwilhan III, Kol Czi IGN Suriastawa mengatakan sedikitnya dua orang luka akibat tembakan itu, yakni anggota satuan tugas aparat teritorial, Sertu Faisal Akbar dan seorang dosen Universitas Gadjah Mada, Bambang Purwoko yang merupakan salah seorang rombongan TGPF.

“Pada tanggal 9 September 2020, pukul 15.30 WIT, di daerah Kampung Mamba Bawah, Distrik Hitadipa telah terjadi pengadangan oleh KSB terhadap rombongan TGPF saat kembali dari Distrik Hitadipa menuju ke Sugapa”, kata Suriastawa dalam keterangan resminya.

Kemudian, dua orang yang terkena tembakan itu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Sugapa untuk mendapatkan pertolongan medis. Suriastawa menyatakan bahwa KSB telah bertindak brutal atas serangan terhadap TGPF.

Seperti diketahui, TGPF diberangkatkan ke Intan Jaya untuk mengusut kematian pendeta Yeremia Zanambani yang meninggal usai ditembak. TGPF ditugaskan selama dua pekan untuk menyelidiki dan mencari kebenaran atas sejumlah peristiwa penembakan serta kekerasan yang terjadi di Papua pada September 2020. (VOA/aa/em)