Pengungsi Rohingya, Indonesia Desak PBB Berikan Bantuan Nyata

Indonesia mendesak Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR), sebuah badan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) urusan pengungsi untuk memberikan bantuan nyata. Tidak sekedar narasi semata guna menangani pengungsi Rohingya di Indonesia. Selama ini warga dan pemerintah lokal yang mengurus seluruh keperluan ratusan pengungsi yang tiba di Aceh dengan kapal-kapal kecil.

UNHCR bersama Amerika, Inggris, Uni Eropa, dan sejumlah negara ASEAN – Kamis malam 22 Oktober melangsungkan pertemuan virtual untuk mencari solusi memenuhi kebutuhan kemanusiaan mendesak bagi warga minoritas Muslim-Rohingya di dalam dan luar Myanmar. Pertemuan ini juga berupaya memastikan dukungan bagi negara-negara yang ikut terkena dampak dari krisis kemanusiaan ini dan kini menampung ratusan ribu pengungsi asal Myanmar itu.

Direktur Hak Asasi Manusia di Kementerian Luar Negeri Indonesia Achsanul Habib di sela pertemuan itu mengatakan ada tiga hal yang disampaikan Indonesia dalam pertemuan itu, mulai dari penanganan akar masalah di daerah konflik guna menyelesaikan isu pengungsi, hingga soal perlunya kerjasama internasional yang lebih nyata terkait isu-isu lain yang berkelindan dengan persoalan pengungsi, misalnya soal penyelundupan dan perdagangan manusia.

Tetapi ia juga menegaskan satu hal penting lainnya yaitu dukungan nyata badan-badan internasional dan negara lain tidak dalam bentuk narasi semata.

“Kami menegaskan kembali bahwa komitmen, dukungan dan ucapan simpati pada negara-negara yang menerima dan menjadi tujuan transit, sedianya tidak berhenti sampai disitu. Ayo diwujudkan dalam bentuk bantuan yang tangible, yang kelihatan bentuknya, ada beban yang seharusnya ditanggung bersama.

Bukan hanya narasi yang kita tunggu. Dalam hal ini peran UNHCR harus sampai di lapangan, bukan sekedar menghimbau dan menyampaikan ajakan, tetapi juga memproteksi pengungsi secara langsung. Proteksi ini bukan saja soal mengelola sebuah kamp, tetapi juga memikirkan agar mereka tidak menjadi korban penyelundupan dan perdagangan orang. Ini jelas terindikasi dari sebagian pengungsi yang kita tampung, yang ternyata dibebani biaya tertentu untuk melakukan perjalanan dari kamp-kamp,” ujarnya.

Untuk menangani pengungsi Rohingya yang tiba di Aceh, tambah Habib, yang selama ini turun tangan justru warga lokal di Lhokseumawe, Aceh Utara, bersama pemerintah lokal dan Palang Merah Indonesia saja. (VOA/em/jm)