Perang Nagorno-Karabakh, Masyarakat Berlindung di Bawah Tanah

Perang Nagorno-Karabakh belum berusia dua pekan pada hari Jumat, tetapi itu adalah pertempuran ketiga dalam 28 tahun. Penduduk setempat mengatakan itu bisa menjadi komflik paling merusak. Perbatasan Azerbaijan diakui secara internasional termasuk Nagorno-Karabakh, wilayah pegunungan itu mengklaim sebagai negara merdeka.

Armenia mengatakan wilayah itu dan beberapa daerah sekitarnya berada di bawah perlindungannya. Azerbaijan mengatakan wilayah tersebut diduduki secara ilegal.

Ratusan orang tewas dalam kekerasan baru-baru ini, termasuk puluhan warga sipil di kedua belah pihak.

Di bawah gedung telekomunikasi, sukarelawan memperbaiki tempat penampungan. Seperti banyak orang di kota, mereka sebagian besar adalah mantan tentara, dan putra mereka bertempur di garis depan perang.

“Saat ini semua kehidupan ada di tempat penampungan”, kata Hmayak Vanyan, 60 tahun, sambil bersandar pada sekop. Ia mengaku tidak akan meninggalkan tempat itu.

Bagi etnis Armenia di kota tersebut, perang ini merupakan ancaman eksistensial, dan simpati pihak lain sangat sedikit. Bagi orang Azerbaijan, perang itu sama emosionalnya, menurut Zaur Shiriyev, seorang analis Kaukasus Selatan di Crisis Group.

Daerah di sekitar Nagorno-Karabakh, sekarang dikuasai oleh Armenia, dulunya sebagian besar dihuni oleh orang Azerbaijan. Ratusan ribu orang Azerbaijan terpaksa meninggalkan rumah mereka pada tahun 1990-an. Saat ini, menurut Shiriyev, sebanyak satu juta orang mengungsi di Azerbaijan, tidak dapat kembali karena tanah itu telah dikuasai oleh militer dari pihak bermusuhan.

“Pengungsi internal hidup dalam kondisi sosial buruk” kata Shiriyev. Hal itu telah menyebabkan ketidakpastian.

Di Stepanakert, jika kondisi relatif aman, orang-orang itu kembali menaiki tangga, diikuti oleh para wartawan. Saat malam tiba, mobil-mobil kembali ke jalan, beberapa dengan lampu depan redup. Jika ledakan terdengar, warga sipil dan jurnalis kembali ke tempat penampungan bawah tanah. (VOA)