Sempat Dihentikan, Dua Perusahaan Farmasi Uji Vaksin COVID-19 di AS

Dua perusahaan farmasi Jumat 23 Oktober mengumumkan memulai kembali uji coba kandidat vaksin COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) mereka di Amerika Seriakt (AS).

Pengujian kandidat vaksin AstraZeneca telah dihentikan sejak awal September, sementara studi vaksin Johnson & Johnson dihentikan awal minggu lalu. Masing-masing perusahaan mendapati relawan studi menderita masalah kesehatan serius sehingga perlu tinjauan data keselamatan.

Kedua vaksin virus corona itu termasuk di antara beberapa kandidat dalam pengujian tahap akhir, langkah terakhir sebelum meminta persetujuan regulasi.

Para pembuat obat itu mengatakan, Jumat mendapat izin dari Badan Obat-obatan dan Pangan AS (FDA) untuk memulai kembali uji coba di Amerika Serikat.

Penghentian sementara pengujian obat dan vaksin semacam itu relatif umum: dalam penelitian yang melibatkan ribuan peserta, beberapa kemungkinan jatuh sakit. Menangguhkan studi memungkinkan peneliti untuk menyelidiki apakah penyakit yang diderita merupakan efek samping atau kebetulan.

Pengujian vaksin AstraZeneca, yang dikembangkan bersama Universitas Oxford, telah dilanjutkan di Inggris, Brasil, Afrika Selatan, dan Jepang.

“Dimulainya kembali uji coba klinis ini di seluruh dunia merupakan berita baik karena memungkinkan kita melanjutkan upaya untuk mengembangkan vaksin ini guna membantu melawan pandemi yang mengerikan ini,” kata Pascal Soriot, CEO AstraZeneca dalam sebuah pernyataan.

Studi AstraZeneca melibatkan 30 ribu orang di AS, sebagian mendapatkan vaksin dan sebagian lainnya melalui suntikan.

Pengujian dihentikan setelah seorang peserta Inggris menderita gejala syaraf yang parah terus menerus dengan peradangan langka pada sumsum tulang belakang yang disebut myelitis transversal. Pengujian AstraZeneca juga telah dihentikan sebelumnya pada musim panas.

Johnson & Johnson mengatakan bersiap-siap untuk melanjutkan perekrutan secepatnya untuk studi vaksinnya di AS. Dalam sebuah pernyataan, perusahaan itu tidak mengungkapkan sifat penyakit sukarelawan tersebut tetapi mengatakan, evaluasi secara menyeluruh “tidak menemukan bukti bahwa kandidat vaksin tersebut merupakan penyebab insiden itu.”

Perusahaan itu menambahkan pihaknya sedang mengadakan pembicaraan dengan regulator lain di seluruh dunia untuk melanjutkan pengujian di negara mereka. (VOA/my/pp)