UMKM Diminta Perhatikan Kebutuhan Pasar Sebelum Produksi

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) diminta tak hanya fokus pada produk saat ini, tapi juga terus berinovasi dan kreatif. Perhatikan kebutuhan pasar sebelum memproduksi barang.

Hal itu ditegaskan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah Atikoh Ganjar Pranowo, saat pembukaan pelatihan bertajuk Fastrack UKM Ekspor, Sinau Online Marketing 2020, Senin 19 Oktober. Kegiatan ini diselenggarakan secara daring oleh Bank Indonesia.

Atikoh mengatakan, pelaku UKM di Jawa Tengah harus terus berinovasi dan kreatif. Karena, saat pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease 2019), terjadi perubahan kebiasaan konsumen terhadap pembelian produk.

“Sekarang harus switch, beradaptasi karena demand masyarakat berubah. Biasanya yang bekerja di kantor, kini dari rumah stay at home“, ungkap Atikoh. Ditambahkan, formula seperti itu juga harus diterapkan saat pelaku UKM akan menjual barang ke luar negeri. Atikoh meminta, agar lebih dulu melihat dan mempelajari kebutuhan pasar, sebelum membuat suatu produk.

“Negara tujuan juga mengalami perubahan. Jerman, Australia, dan Singapura berbeda demand-nya. Cermati jangan sampai produk yang diekspor sulit masuk”, imbuhnya.

Selain Atikoh, hadir pula Deputi Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Iss Savitri Hafid, Atase Perdagangan Canberra Agung Wicaksono, Konsul Jendral Hamburg Adrian Wicaksono, dan para diaspora Indonesia di luar negeri.

Deputi Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Iss Savitri Hafid mengatakan, pelatihan itu digelar untuk membekali pelaku UKM agar bisa menembus pasar Australia, Jerman, dan Singapura. Mereka diberi pelatihan seputar product development, packaging, labeling, market development research, dan segala hal yang membuat sebuah produk layak ekspor.

Ditambahkan, di Provinsi Jawa Tengah, ada sekitar empat juta UKM. Dengan potensi tersebut, setiap tahun BI selalu melakukan kurasi untuk selanjutnya ditemukan dengan potential buyer.

“Tahun 2019 dari 150 pendaftar, setelah dikurasi terdapat 150 UKM yang lolos. Tahun ini peminatnya lebih banyak, ada 850 pendaftar, menyusut jadi 350 peserta dan terakhir 101 pelaku UKM dipandang siap melakukan ekspor,” ujarnya.

Iss Savitri menyatakan, bagi 350 peserta yang dinilai belum siap ekspor, BI Jateng akan melakukan pendampingan. Peningkatan kapasitas tersebut dilakukan dengan cara daring, melalui ajang ‘Sinoman’ (Sinau Online UMKM Gayeng).

“Kita bersama pemerintah daerah mendorong UMKM menjadi sukses, dapat go international, dan siap go digital,” paparnya.

Sementara itu, Atase Perdagangan Canberra Agung Wicaksono mengatakan, antara Indonesia dan Australia telah meratifikasi IA-CEPA. Dengan kesepakatan Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement, barang dari Indonesia tidak dikenakan bea masuk. Hal itu bisa menjadi peluang bagi pengusaha UKM.

“Barang-barang seperti kayu dan turunannya, otomotif, kayu tekstil dan produk elektronik serta komunikasi tarif (bea) masuk nol persen,” pungkas Agung. (Pemprov Jateng/Diskominfo/Pd/Ul)