Usai Gempa, Kasus COVID-19 di Sulbar Naik 70 Persen

Dokter Tri Maharani, Emergency Medical Team (EMT) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Provinsi Sulawesi Barat meningkat sebesar 70 persen. Hal tersebut terjadi hanya beberapa pekan setelah bencana gempa bumi.

Artinya untuk relawan dan pengungsi ditemukan banyak sekali ditemukan kasus baru COVID-19,” ujar Tri Maharani dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Sabtu (6/2) oleh Gen Indonesia, perkumpulan para jurnalis dan aktivis yang hadir di tengah era disrupsi informasi.

“Karena tadi malam (Jumat, 5 Februari -red) mendapat kabar bahwa ada dokter, ada dokter spesialis, ada perawat,ada relawan, ada pengungsi banyak positif. Nah tidak mungkin mereka bisa diisolasi di tenda di depan rumah sakit yang sudah hancur itu. Jadi saya usulkan dibuatkan tempat isolasi untuk penderita COVID-19 di tengah bencana Mamuju ini,” imbuh Tri Maharani.

Mengutip rekap data COVID-19 Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, per tanggal 6 Februari 2021, jumlah kumulatif positif COVID-19 berjumlah 4.380, naik 73 persen dibandingkan data 14 Januari yang hanya 2.529 kasus. Artinya dalam rentang 23 hari terjadi penambahan 1.851 kasus di enam wilayah kabupaten. Dari angka kumulatif 4.380 pada 6 Februari, 2.415 diantaranya dinyatakan sembuh, dirawat 256, menjalani isolasi mandiri 1.625 dan kematian akibat COVID-19 berjumlah 84.

Sebelum gempa, Rumah Sakit Regional Mamuju menjadi tempat isolasi bagi pasien yang terpapar COVID-19. Namun kini rumah sakit itu rusak akibat gempa, sehingga perlu segera dibuat tempat khusus untuk isolasi darurat.

Swandy, Kepala Seksi Bidang Pencegahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulawesi Barat, mengungkapkan saat ini sudah tersedia lima tenda yang dikhususkan untuk tempat isolasi bagi penderita COVID-19. Tenda tersebut dibangun di sekitar Rumah Sakit Regional Mamuju. Diakuinya yang perlu mendapat perhatian adalah penderita tanpa gejala yang menjalani isolasi mandiri sehingga bisa menularkan kepada orang lain.

“Karena disisi pencegahannya tentu akan sangat berat membatasi pergerakan orientasi dari pasien tanpa gejala tersebut,” katanya.

Menurut Swandy, bila sewaktu-waktu terjadi guncangan gempa susulan, pasien tanpa gejala akan meninggalkan tempat di mana mereka menjalani isolasi mandiri.

“Setiap ada gerakan (guncangan gempa) masyarakat itu berbondong-bondong melakukan evakuasi dan ini akan berdampak pada terjadinya transmisi lokal yang berdampak pada tingkat penyebaran yang tentu sedikit membesar,” jelas Swandy.

Raditya Jati, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BNPB, mengimbau para relawan yang hadir di Sulawesi Barat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan mencegah tertular virus corona.

“Kami mohon teman-teman relawan, teman-teman yang bergerak di sana tetap menerapkan protokol kesehatan, jangan sampai yang jadi relawan justru terpapar,” imbau Raditya Jati. BNPB, katanya, akan berkoordinasi dengan satgas penanganan bencana di Sulbar untuk menyiapkan lokasi isolasi mandiri yang juga dapat memanfaatkan tempat-tempat penginapan.

Sementara itu, warga yang khawatir dengan penularan COVID-19 sudah mempertimbangkan pilihan untuk kembali. Mereka berencana untuk membuat tenda terpal sebagai tempat tinggal sementara di halaman rumah mereka yang rusak akibat gempa.

“Yah mungkin di luar teras saja diratakan kita tidur saja nginap di sana karena di lokasi pengungsian kan orang ramai takutnya COVID. Kita tidak tahu yang mana terkena COVID, mana yang tidak,” kata Rizal Jufli (37).

Dari pemantauan VOA di sejumlah lokasi pengungsian terlihat masih ada warga yang tidak mengenakan masker, baik orang dewasa maupun anak-anak. Sarana sanitasi yang terbatas juga menyulitkan warga untuk menerapkan kebiasaan mencuci tangan. Tenda-tenda terpal yang sebagian besar digunakan warga untuk mengungsi dapat diisi dua hingga tiga keluarga juga menyulitkan mereka untuk menjaga jarak. (VOA/yl/ah)