Warga Sekitar Sungai Pengabuan Kehilangan Sumber Ekonomi

Warga di sekitar Sungai Pengabuan, Jambi, kehilangan sumber ekonomi, karena sungainya diduga tercemar sehingga tak ada ikan yang bisa ditangkap. Pencemaran sungai dimulai dari hilir Sungai Kelagian yang bertemu Sungai Pengabuan. Bau amoniak dan warna yang hitam pekat terlihat jelas di sungai ini.

Inilah temuan fakta, saat tim kunspek Komisi IV DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi, Sabtu 5 Desember, menyusuri dua sungai tersebut. Lokasi sungai ini berada di Desa Kelagian Kec. Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Dibantu Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Jambi, sampling air sungai diambil untuk diteliti di laboratorium, agar diketahui sejauh mana dua sungai ini sudah tercemar.

“Dari cerita warga di sini, mereka sudah kehilangan mata pencaharian sebagai nelayan yang mencari ikan di sungai, karena ikannya sudah hilang. Sumber pembuangannya mengalir dari Sungai Kelagian ke Sungai Pengabuan. Itu kan, sudah hitam pekat dan baunya luar biasa. Itu saja fakta yang saya lihat hari ini. Apakah itu mengandung unsur pencemaran yang berdampak bagi kesehatan masyarakat atau apakah itu penyebab hilangnya ikan-ikan yang ada di sungai ini. Nanti hasil laboratorium yang membuktikan,” papar Dedi.

Usai menyusuri sungai tersebut, politisi Partai Golkar itu berkomentar, temuan ini masih perlu uji laboratorium. Belum bisa dinilai lebih jauh. Namun, keluhan masyarakat setempat sudah didengar dan dilihat dari dekat bukti pencemaran di sungai. Butuh waktu tiga jam untuk mencapai titik lokasi dari Kota Jambi.

Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini ada perusahaan produsen kertas. Siang dan malam truk-truk besar pengangkut kayu sebagai bahan kertas berseliweran di jalan kabupaten yang menuju sungai. Jalan rusak dan berdebu menjadi pemandangan sepanjang jalan.

Adalah Hadianto, mantan nelayan setempat, menuturkan, dahulu dua sungai tersehut airnya bisa langsung diminum dan ikan sangat melimpah. Ia termasuk nelayan yang suka menangkap ikan di sini. Sejak sungai tercemar, akunya, tak ada lagi nelayan yang menarik perahunya ke tengah sungai untuk menangkap ikan.

Ia sendiri kini beralih profesi sebagai penarik perahu penumpang. Sudah bertahun-tahun lamanya sungai ini tercemar, hingga ekonomi warga setempat merosot tajam. “Susah cari udang dan ikan di sungai ini.. Dulu airnya bisa diminum langsung. Kini, bila air terkena kulit, langsung lengket,” keluhnya.

Sementara Dedi kembali mengatakan, masyarakat di sini hidup dari berkebun kemudian mengambil ikan di sungai. “Nah, sekarang menjadi agak berat, karena sumber ikan di sungai sudah tidak ada. Kita belum bisa mengatakan ada dugaan pencemaran. Biarkan nanti Kementerian Lingkungan Hidup yang membuktikan, karena secara teknis mereka yang memiliki otoritas,” tutup mantan Bupati Purwakarta itu. (DPR/mh/es)